luas mata memandang

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

lihatlah keindahanya..

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

pujilah penciptanya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Subhanallah..

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Alhamdulillah ala kulli hal..

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, 11 July 2011

Siapakah ulama yang benar-benar menjaga agama ini?

Penulis: Abu Soleh Mohd Safwan

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama." (Fathir: 28)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (Az-Zumar: 9)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui." (Al-Anbiya': 7)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Allah menyatakan bahawasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyetakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Ali-Imran: 18)

Demikianlah kedudukan ulama diangkat, mereka merupakan orang-orang yang paling takut diantara manusia, mereka merupakan tempat pertanyaan bagi orang yang tidak mengetahui dan merekalah orang-orang yang mengenali Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya, dan perbuatanNya sehingga membuat mereka paling takut dengan Allah.

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah kerana kurnia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan kecuali sebahagian kecil sahaja (di antara kamu)." (An-Nisa': 83)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Nescaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa darjat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Mujadalah: 11)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Dan katakanlah: Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (Thaha: 114)

Imam Ibn Hajar Al-'Asqalani rahimahullah berkata:

"Jelas maksudnya menunjukkan keutamaan ilmu, sebab Allah tidaklah memerintahkan NabiNya untuk meminta tambahan apa-apa selain ilmu. Yang dimaksudkan dengan ilmu di sini ialah ilmu syar'i yang berguna untuk memperlihatkan apa yang wajib bagi seorang mukallaf berupa perintah agama dalam ibadah dan muamalatnya, serta ilmu tentang Allah dan sifatNya, juga apa yang wajib ditegakkannya berupa perintah dan mensucikanNya dari kekurangan. Itu semua berasaskan pada tafsir, hadis dan fiqh." (Fathul Bari 1/141)

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam berkata:

"Siapa yang Allah kehendaki baginya kebajikan maka Dia akan membuatnya faqih (mahir) tentang agama. Saya hanyalah Qasim (pembagi), Allah yang memberi. Serta senantiasa ada dari umat ini orang-orang yang tegak di atas perintah Allah tanpa memudaratkan mereka sesiapa yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah." (Hadis riwayat Bukhari)

Imam Ibn Hajar rahimahullah berkata:

"Telah dipastikan bahawa mereka yang dimaksudkan ialah ulama atsar. Imam Ahmad berkata: Kalau mereka itu bukan ahli hadis, maka saya tidak tahu lagi siapa mereka." (Fathul Baari 1/164)

Beliau rahimahullah berkata lagi:

"Pemahaman yang dapat diambil dari hadis ini: Sesungguhnya siapa yang tidak faqih tentang agama Islam, ertinya tidak mempelajari asas-asas Islam dan cabang-cabangnya, maka dia telah diharamkan dari kebajikan. Abu Ya'la telah mengeluarkan hadis Mu'awiyah dari jalur lain yang dhaif (lemah), di mana dia tambahkan pada akhirnya:

"...Sedangkan sesiapa yang tidak mahu memahirkan di dalam agama, maka Allah tidak mempedulikannya."

Namun, maknanya benar kerana orang yang tidak mengetahui urusan agama bererti tidak faqih dan tidak pula mempelajari fiqh, maka benarlah jika dikatakan bahawa dia tidak dikehendaki mendapatkan kebajikan. Di sini ada penjelasan yang jelas tentang keutamaan tafaquh fiddin (memahirkan di dalam agama) di atas seluruh ilmu lainnya." (Fathul Baari 1/165)

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Dihadapkan Nuh pada hari kiamat. Maka baginda ditanya: 'Apakah engkau telah menyampaikan (tugas kerasulan)?' Beliau menjawab: 'Ya wahai Tuhanku.' Lalu umatnya ditanya: 'Adakah dia telah menyampaikan kepada kalian?' Mereka menjawab: 'Tidak ada seorang pun pemberi peringatan yang datang kepada kami.' Maka dikatakan kepada Nuh: 'Siapakah saksimu?' (Nabi Nuh) menjawab: 'Muhammad dan umatnya.' Maka kalianpun dihadapkan dan memberikan persaksian.

Kemudian Rasulullah membaca:

Maksudnya: "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat yang wasath (pertengahan) agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu." (Al-Baqarah: 143) (Hadis riwayat Bukhari)

Imam Ibn Hajar rahimahullah berkata:

"Al-Wasath ialah adil, sebagaimana telah lalu dalam tafsir surah Al-Baqarah. Kesimpulan isi ayat ini adalah penyebutan tentang nikmat pemberian hidayah dan keadilan. Adapun ucapannya 'dan apa yang diperintahkan...' kesesuaiannya dengan hadis tema ini tidak jelas. Sepertinya dari sudut sifat tersebut, yakni keadilan. Sebab ia meliputi semuanya berdasarkan zahir penyempaian yang mengisyaratkan bahawa ia merupakan sebuah keumuman yang diinginkan dengannya sesuatu yang khusus atau keumuman yang dikhususkan. Kerana orang jahil tidak termasuk orang-orang yang adil, tidak pula sebagai ahli bid'ah. Maka ketahuilah bahawa yang dimaksukan dengan sifat tersebut adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Merekalah ahli ilmu syar'i." (Fathul Baari 16/133)

Wahb bin Munabbih berkata: "Seorang faqih yang menjaga kesucian, zuhud dan komitmen kepada sunnah itulah pengikut para nabi di setiap zaman." (Al-Ibanah, Ibn Baththah, 1/201)

Sufyan bin 'Uyainah berkata: "Manusia yang paling utama kedudukannya di hari kiamat adalah yang menjadi perantara Allah dengan makhluknya." Maksudnya Rasulullah dan ulama. (Ibid 1/202)

Salamah bin Sa'id berkata: "Dahulu dikatakan ulama itu penerang semua zaman. Setiap ulama adalah lampu bagi zamannya. Penduduk masa itu mengambil cahaya dari dirinya. Dikatakan juga: Ulama menghapus tipu daya syaitan." (Ibid 1/203)

Imam Ibn Baththah Al-'Akbari berkata:

"Semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang yang menghidupkan kebenaran dan sunnah serta mematikan kebatilan dan bid'ah, di mana penduduk masa itu mengambil cahaya dari pancaran ilmunya, serta dia mampu menguatkan hati para saudaranya yang beriman." (Ibid)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram." (Ali-Imran: 106)

Ibn 'Abbas radhiallahu 'anhuma berkata:

"Orang-orang yang putih berseri mukanya ialah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ulama, sedangkan orang-orang yang hitam muram wajahnya adalah ahli bid'ah dan dholal (kesesatan)." (Syarah Usul I'tiqad Ahlis Sunnah, Imam Al-Lalika'i 1/71)

Firman Allah Ta'ala:

Maksudnya: "Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan Ulil Amri di antara kamu." (An-Nisa: 59)

Ibn 'Abbas radhiallahu 'anhuma berkata tentang firman Allah '...dan ulil amri di antara kamu.':

"Yakni ahli fiqh, ahli dalam agama Islam dan orang-orang yang taat kepada Allah, orang-orang yang mengajarkan makna-makna agama kepada manusia, beramar makruf dan nahi mungkar, maka Allah mewajibkan para hamba untuk mentaati mereka." (Syarah Usul I'tiqad Ahlis Sunnah 1/73)

Ketahuilah sesungguhnya kebajikan dan kebahagiaan bergantung pada keberadaan ulama. Jika ulama-ulama telah pergi, maka akan tersebarlah kejahilan dan musibah. Maka akan berlakulah orang-orang jahil menjadi pemimpin kepada masyarakat yang jahil. Mereka ini sesat lagi menyesatkan.

Umar bin 'Abdul 'Aziz menulis surat kepada Abu Bakr bin Hazm:

"Lihatlah mana hadis rasulullah kemudian tulislah, kerana sesungguhnya saya bimbang hilangnya ilmu dan perginya ulama. Janganlah engkau menerima selain hadis Nabi dan sebarkanlah ilmu. Duduklah sehingga orang yang tidak tahu menjadi tahu, kerana sesungguhnya ilmu tidaklah terhapus sehingga ia (sebelumnya) berupa sesuatu yang rahsia." (Fathul Baari 1/194)

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan begitu sahaja dari para hamba. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama. Sehingga ketikamana tidak tersisa lagi seorang alim, maka orang-orang pun mengambil orang-orang jahil sebagai pemimpin. Mereka ditanya lalu mereka memberi fatwa. Mereka sesat lagi menyesatkan." (Hadis riwayat Bukhari)

Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhuma berkata:

"Bagaimana kalian ketika kalian telah diselimuti dengan fitnah, yang di dalamnya orang dewasa hidup menjadi renta dan anak-anak hidup menjadi dewasa, sehingga manusia menjadikannya sebagai adat kebiasaan yang apabila diubah, maka mereka mengatakan: 'Adat diubah!' Orang-orang bertanya: 'Bilakah hal itu akan terjadi, wahai Abu Abdirrahman (gelaran Ibn Mas'ud)?" Ibn Mas'ud menjawab: 'Di saat semakin banyak para pembaca Al-Quran akan tetapi sedikit yang memahami, banyak pemimpin dan sedikit anak-anak kalian, lantas kalian mencari dunia dengan amalan akhirat." (Riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal ila as-Sunan al-Kubra, ms. 453)

Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhuma berkata:

"Wahai hamba Allah, apakah kalian tahu bagaimana Islam itu berkurang dari manusia? Mereka menjawab: 'Ya, sebagaimana lemak binatang ternak berkurangan, sebagaimana lunturnya warna pakaian dan sebagaimana duit menjadi hitam kerana lama disimpan.' Beliau berkata: 'Ini di antaranya. Namun lebih dari itu ialah pemergian ulama. Di suatu kawasan terdapat dua alim, satu meninggal maka hilanglah setengah ilmu mereka dan satu lagi meninggal maka hilanglah seluruh ilmu mereka. Pemergian ulama merupakan pemergian ilmu." (Ibid, ms. 454)

Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhuma berkata:

"Tidak datang kepada kalian satu hari yang baru melainkan ia lebih buruk daripada hari sebelumnya, begitulah sampai tegak hari kiamat. Saya tidak memaksudkan kemewahan hidup yang dimilikinya atau harta yang bernilai baginya. Akan tetapi, tidaklah datang kepada kalian hari yang baru melainkan hari itu lebih sedikit ilmunya daripada hari sebelumnya. Kalau ulama telah pergi maka manusiapun duduk terdiam, mereka tidak melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Ketika itulah mereka binasa."

Dari jalur Asy-Sya'bi, Ibn Mas'ud berkata: "Tidak datang kepada kalian masa yang baru melainkan dia lebih buruk daripada sebelumnya. Saya tidak maksudkan seorang pemimpin yang lebih baik dari pemimpin lainnya atau satu tahun yang lebih baik dari tahun lainnya. Akan tetapi ulama dan fuqaha kalian pergi lalu kalian tidak lagi mendapatkan pengganti mereka. Kemudian datanglah suatu kaum yang berfatwa dengan akal mereka semata-mata."

Dalam lafaz lain: "Itu bukanlah tentang banyaknya melimpah hujan atau sedikitnya, akan tetapi tentang pemergian ulama. Kemudian muncullah suatu kaum yang memberikan fatwa dalam semua perkara dengan akal mereka, sehingga dia merosakkan Islam dan merobohkannya." (Fathul Baari 13/21)

Fudhail bin 'Iyadh berkata: "Bagaimana engkau kalau engkau tetap hidup sampai suatu zaman yang saat itu engkau menyaksikan suatu kaum yang tidak dapat membezakan antara kebenaran dengan kebatilan, tidak juga antara seorang yang beriman dengan yang kafir, tidak juga antara jahil dengan yang alim, tidak mengenal perkara makruf dan tidak mengenal yang mungkar."

Ibn Baththah memberi komentar di atas:

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Hal itu telah sampai kepada kita dan kita telah mendengarkannya, kita telah mengetahui kebanyakannya dan menyaksikannya. Andaikata seseorang yang telah Allah berikan baginya akal sihat dan pandangan tajam menatap dengan teliti, memikirkan baik-baik keadaan Islam dan umatnya, menilai umat berdasarkan metodologi yang lurus, maka tentu akan menjadi jelas baginya bahawa kebanyakan manusia telah berpaling dan menyimpang dari jalan yang terang dan hujjah yang benar.

Banyak manusia pada waktu ini telah berubah dengan memandang baik apa yang dahulu mereka pandang buruk, mereka menghalalkan apa yang dulunya mereka memandang haram, serta mereka telahpun mahu menerima apa yang tadinya mereka ingkari.

Ini -semoga Allah merahmatimu- bukanlah akhlak kaum muslimin dan bukan pula tindakan mereka yang benar-benar mengatahui agama Islam ini, serta mereka bukanlah ahli Iman dan yakin akan Islam." (Al-Ibanah 1/188)

Kita lihat apa yang dikatakan oleh Al-Imam Ibn Baththah Al-'Akbari terhadap apa yang dikatakan oleh Fudhail bin 'Iyadh radhiallahu 'anhu, iaitu di waktu itu telah pun berlaku manusia yang tidak dapat membezakan yang mana baik dan buruknya, yang mana benar dan batilnya, yang mana iman dan yang mana kufurnya dan begitulah seterusnya padahal Ibn Baththah berada di abad yang keempat. Bagaimana pula jika kita ukur dengan waktu kita pada hari ini? Sudah tentu lebih jauh hebat kejahilan yang dihadapi pada hari ini. Sungguh pada hari ini ramainya kelompok-kelompok Islam yang cuba menisbahkan diri mereka dengan kebenaran akan tetapi mereka yang sebenarnya jauh dari kebenaran.

Ibn Qutaibah rahimahullah berkata:

"Andaikata mereka mengembalikan apa yang tidak jelas dari Al-Quran dan As-Sunnah kepada ulama ahlinya, maka tentu akan jelas perkaranya bagi mereka dan penyelesaian akan lebih kelihatan luas. Akan tetapi yang menghalangi itu adalah mencari kedudukan, ingin mendapatkan pendokong, serta manusia itu laksana sekelompok burung yang sebahagiannya mengikuti sebahagian lainnya. Sekiranya muncul seorang mengaku sebagai nabi -padahal mereka sedar bahawa Rasulullah adalah penutup para nabi- atau mengaku sebagai Tuhan, nescaya kita akan melihat ada yang menjadi pengikut dan pendokongnya." (Takwil Mukhtalafi Hadis, ms. 43)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:

"Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di setiap masa kekosongan rasul, ulama-ulama yang tinggal mengajak menjauhi kesesatan kepada hidayah, bersabar menanggung gangguan. Mereka menghidupkan orang-orang mati dengan Kitabullah, menjadikan orang buta melihat dengan cahaya Allah. Sudah berapa banyak korban Iblis yang mereka selamatkan, berapa banyak orang sesat tak berharga yang memberi petunjuk.

Aduhai alangkah indah prestasi mereka untuk manusia tapi alangkah buruk balasan manusia kepada mereka. Mereka membersihkan Kitabullah dari perubahan orang-orang yang melampaui batas, muslihat ahli batil, dan takwil orang-orang yang jahil: Yakni orang-orang yang mengibarkan bendera bid’ah dan melepaskan ikatan fitnah. Mereka itu berselisih tentang Al-Quran, menyelisihi Al-Quran, dan bersepakat untuk meninggalkan Al-Quran. Mereka mengatakan terhadap Allah, tentang Allah, dan tentang Kitabullah tanpa ilmu. Mereka berbicara dengan ayat mutasyabih (samar-samar) dan menipu orang bodoh dengan kesamaran itu. Kita berlindung kepada Allah dari fitnah orang-orang yang menyesatkan.” (Ar-Radd ‘Ala Az-Zanadiqah wal Jahmiyah, ms. 6)

Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhufairi berkata:

“Maka ulama rabbani sebagaimana yang disifatkan oleh Al-Ashbahani -ringkasnya- adalah orang-orang yang alim tentang syariat Islam, mengikuti Sunnah, dan beragama kepada Allah dengan Al-Quran dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman salafus soleh.

Adapun ahli kalam, mereka itu bukan ulama semisal dengan mereka di zaman kita ini adala orang-orang yang mendapat gelaran cendikiawan muslim, pemikir, ahli waqi’ (realiti), atau politik. Maka bagaimana kita akan merasa aman terhadap agama dan aqidah kita di saat kita berpegang kepada orang yang seperti mereka itu atau kita membawa para pemuda dan orang-orang kepada mereka?

Kemudian orang yang mengetahui sejarah umat Islam sejak terbitnya fajar Islam, anak jelas kelihatan baginya bagaimana Allah menjaga agama-Nya setelah pemergian Nabi, ulama Ahli Sunnah dan Ahli Hadis.

Merekalah yang melakukan perjalanan dari satu negeri ke negari lainnya untuk mengumpulkan hadis Rasulullah kemudian membukukannya dalam lembaran-lembaran dengan berbagai-bagai ragam seperti Musnad, Majma’, Mushannaf, Sunan, Muwatto’, kitab-kitab Zawa’id, dan Mu’jam. Mereka menjaga hadis-hadis Rasulullah dari pemalsuan para pemalsu dan kebohongan dari para pembohong, membezakan antara yang sahih dengan yang cacat. Mereka meletakkan kaedah-kaedah hadis, yang dengannya dapat dibezakan antara hadis yang dapat diterima atau ditolak dan dengannya para perawi dapat dikenalpasti. Mereka tuliskan nama-nama orang yang tsiqah, dhaif, atau pemalsu. Mereka menukilkan pemerhatian para imam jarah wat ta’dil (cercaan dan pujian) tentang orang-orang itu. Bahkan mereka menyendirikan riwayat satu orang rawi; riwayat penduduk Syam, penduduk ‘Iraq, penduduk Hijaz, riwayat seseorang sebelum pemikirannya kacau dan sesuadahnya dan seterusnya.

Sesungguhnya orang-orang yang mengetahui ilmu ini, pembahagian, jenis, dan kitab-kitab yang menuliskan tentangnya, tentu akan merasa kagum melihat betapa besar bantuan mereka terhadap hadis Nabi.

Mereka pulalah yang berdiri tegak menjelaskn aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah dengan semua babnya, membantah ahli bid’ah dan penyimpang, memperingatan dari ahlul ahwa dan bid’ah, melarang duduk dan berbicara dengan mereka, tidak membalas salam mereka. Bahkan mereka melarang menikah dengannya sebagai penyandaran bagi dia dan orang-orang sepertinya. Mereka menulis karangan yang sangat banyak tentang ini (berkenaan sikap ahli sunnah terhadap ahli bid’ah).

Merekalah yang banyak bergerak mengumpulkan hadis-hadis dan atsar untuk mentafsirkan Al-Quran seperti Tafsir Abi Hatim, Ash-Shan’ani, An-Nasai. Dan diantara mereka ada yang mentafsirkan Al-Quran secara sempurna, seperti Tafsir At-Thabari, Ibn Katsir, dan lainnya. Mereka meletakkan kaedah-kaedah penafsiran Al-Quran, serta membezakan antara tafsir dengan atsar dan antara tafsir dengan rakyi (akal).

Merekalah yang menyusun kitab fiqh lantas menulis kesemua babnya, membahas permasalahannya, menjelaskan hukum syariat yang berhubungan dengan amalan disertai dalil-dalilnya dengan terperinci dari Al-Quran, As-Sunnah, Ijmak dan Qias. Mereka meletakkan kaedah-kaedah fiqh yang menggabungkan persoalan furu’ (cabang) yang banyak namun disatukan oleh satu ‘illah (sebab). Mereka meletakkan usul fiqh yang menjadi dasar penimbang hukum furu’ syariat.

Merekalah yang menulis tentang sirah, tarikh, adab, zuhud, pelembut hati, bahasa, nahu dan selainnya dalam bidang yang sangat banyak.

Ulama itu pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, namun hanyalah mewariskan ilmu. Ulama Ahlus Sunnah telah mendapatkan jatah yang paling sempurna dari ilmu tersebut. Mereka mengumpulkan ilmu, menjelaskan agama kepada manusia, membela sunnah dan aqidah yang murni untuk umat. Mereka itu seperti Ahmad bin Hanbal, Ad-Darimi, Al-Bukhari, Muslim Abu Daud, At-Tirmizi, An-Nasai, Malik bin Anas, Sufyan ats-Tsauri, ‘Ali bin AlMadini, Yahya bin Sa’id Al-Qahthan, Asy-Syafi’i, ‘Abdullah bin Al-Mubarak, ‘Abdurrahaman bin Mahdi, Ibn Khuzaimah, Ad-Daruqutni, Ibn Qudamah Al-Maqdisi, Ibn Abdil Barr, Al-Khatib Al-Baghdadi, dan banyak lagi.

Demikian juga orang-orang yang menelusuri jejak para ulama itu seperti Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah beserta murid-muridnya: Aibnul Qayyim, Adz-Dzahabi, dan Ibn ‘Abdil Hadi, yang telah mengarang banyak sekali kitab yang bermutu, membela aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah, menerangkan agama Islam yang sahih disertai dalil-dalilnya yang tegas dan bukti memuaskan.

Sampai sekarang ni, para penuntut ilmu masih menuntut ilmu fiqh melalui kitab-kitab mereka ini dan mengambil darinya. Bahkan sekalipun dipelbagai universiti dan majlis ta’lim. Semuanya menjadikan karangan para ulama tersebut sebagai silibus pembelajaran.

Demikian pula orang-orang yang berjalan mengikuti manhaj mereka, seperti Mujaddid Dakwah Tauhid Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab, anak-anak dan para ulama Najd, murid-muridnya beserta orang-orang yang menempuh jalan yang sama dari para ulama dunia Islam, seperti Asy-Syaukani, Ash-Shan’ani, ulama India, ulama Mesir (Muhibuddin Al-Khatib, Ahmad Syakir, Muhammad Hamid Al-Faqi), ulama Sudan, Maghribi dan Syam. Semuanya bangkit menyebarkan hadis dan aqidah salafiyah di masing-masing negeri mereka...

Di antara ulama kotemporari kita -sebagai contoh, tidak meliputi kesemuanya-:

1 - Syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, Bekas Mufti Kerajaan Arab Saudi.
2 - syeikh Muhaddis Muhammad Nasiruddin Al-Albani.
3 - Syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah ‘Alu Asy-Syaikh.
4 - Syeikh Shalih Al-Athram.
5 - Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
6 - Syeikh Shalih Al-Fauzan
7 - Syeikh Abdullah Al-Ghadayyan.
8 - Syeikh Al-Luhaidan.
9 - Syeikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi
10 - Syeikh At-Tuwaijiri.
11 - Syeikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad.
12 - Syeikh Hammad Al-Anshari.
13 - Syeikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali.
14 - Syeikh Muhammad Aman Al-Jami.
15 - Syeikh Ahmad Yahya An-Najmi.
16 - Syeikh Zaid bin Muhammad Hadi Al-Madkhali.
17 - Syeikh Shalih As-Suhaimi.
18 - Syeikh Shalih Al-‘Abud, dan para ulama negeri Islam lainnya.

Kita memohon kepada Allah Dat yang Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri untuk selalu menjaga mereka yang masih hidup dan merahmati yang telah meninggal, memberi kita taufiq agar dapat menempuh jalan mereka, serta mengumpulkan kita dan mereka bersama Nabi Muhammad contoh teladan kita di dalam Firdaus tertinggi.” (Dinukil dari ‘Hujah Atas Pengekor Hawa & Pengkhianat Sunnah, Asy-Syeikh ‘Abdullah bin Shalfiq Azh-Zufairi, Pustaka Al-Haura, ms. 104-111. Judul Aslinya: Sillu As-Suyuf wa Al-Alsinah ‘ala Ahli Al-Ahwa wa Ad’iya As-Sunnah.)

sumber :   http://al-muwahhidun.blogspot.com/2009/07/siapakah-ulama-yang-benar-benar-menjaga.html

Saturday, 9 July 2011

Perbaiki Niatmu..

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Dikala keheningan pagi...aku mula merenung diri bagaimana untuk urusan dunia, kepayahan kekalutan..Bagaimana pula ibadahku,urusanku dengan robbku..Pernah kah aku memaksa diri..membangunkan diri seawal waktu agar tak terlepas temujanji bersamanya..Ya robb!!.. jauh sekali aku kira...

Sama-samalah kita ingat mengingati untuk memperbaiki diri, memperbaiki ibadah sehari-hari, firman Allah subahana wataala:"tolong menolonglah kamu dalam kesabaran dan kasih sayang" (al-Balad 17)  dan firman Allah azza wajalla: "tolong menolonglah kamu dalam kebenaran dan tolong-menolong dalam kesabaran" (Surah al-Asr: 3)

Maka tidak selayaknya kita sebagai manusia melalaikan perintah untuk saling mengigati...jauh disudut hatiku mengharapkan dorongan dan ingatan ini selalu saja meniti di bibir suami agar aku sang isteri merasa puas dan selalu teringatkan.Masakan tidak, dialah suami tempat aku berkongsi suka duka,sudah selayaknya ayat ini dipraktikkan dalam keluarga agar bahtera yang di bawa tidak karam di lautan kealpaan.

Perhatikan pula wahai sang isteri, firman Allahu ta'ala:"Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan petang hari,sedangkan mereka menghendaki keridaanNya."(Al-An'am:52)

Umar bin al-Khattab radiallahu anhu mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:

"Amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan setiap orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya.Barang siapa berhijrah hanya kerana Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya.Barang siapa hijrahnya kerana dunia yang ia harapkan atau kerana wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya itu menuju apa yang diinginkan."Hadis Riwayat Bukhari

Abu Musa meriwayatkan bahawa seseorang datang kepada Nabi s.a.w lalu berkata,"Wahai Rasulullah,apa pendapatmu tentang seseorang yang berperang hanya kerana keberanianya dan seseorang berperang kerana fanatisme golongan,serta seseorang berperang kerana riya'?Siapakah di antara mereka masuk kategori fi sabilillah? Rasulullah s.a.w menjawab:

"Barang siapa berperang dengan niat untuk menegakkan kalimat Allah yang tinggi (Islam),itulah yang dinamakan fi sabilillah"Hadis Riwayat Bukhari

Petikan2 ini aku salin semula dari buku Intisari Minhajul Qashidin Imam Ibnu Qudamah sebagai renungan kita dalam menilai niat amal perbuatan sehari-hari,ada baiknya pula kita merenung perbuatan kita, adakah ikhlas keran Allah ta'ala atau kerana riya ujub sombong dan sebagainya.Firman Allahu ta'ala "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama." (al-Bayyinah:5)

Dan firmaNYa "Ingatlah hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih.. (dari syirik)"( az-Zumar:3)

Dan Sabda Rasul:"Sesungguhnya,Allah tidak melihat jasad dan bentuk fisikal kalian,akan tetapi Dia melihat hati dan amal perbuatan kalian"Hadis Riwayat Muslim

Kata Ibnu qudamah "Ingatlah bahawa segala sesuatu berpotensi tercampur dengan lainya,jika ia bebas dari campuran, maka ia disebut ikhlas (murni).Ikhlas adalah lawan kata menyekutukan.Kerana itu,barang siapa tidak ikhlas maka ia musyrik.Hanya saja syirik itu memiliki tingkatan seperti halnya Ikhlas.

Kita lanjutkan lagi katanya,Ikhlas dalam Tuahid adalah lawan kata menyekutukan Allah,yaitulah Syirik akbar (besar) dan syirik jaly (jelas).Adapun syirik ashgar (kecil) adalah seperti riya',yaitu syirik khafy (samar).Riya juga ada yang jaly dan khafy.

Riya jaly adalah riya' yang mendorong pada dasar amalan dan menjadi motifnya.Seandainya tidak ada tujuan riya' maka ia tidak beramal.Itulah riya' terhadap dasar ibadah yang dapat merusak amal dan menghapuskan pahala,meskipun ia juga menyertainya dengan niat mendapat pahala.

Sedangkan riya' khafy adalah seseorang beribadah bukan kerana ingin dilihat orang lain,tapi hal itu menjadi pendorong baginya untuk rajin dan semangat,atau mempegaruhi praktik ibadahnya seperti memanjangkan solat dan memperbaikinya agar dipuji orang lain.Dalam hal ini,orang tersebut diberi balasan pahala kerana niatnya yang benar dan mendapat siksa kerana niatnya yang rusak sesuai kadar kekuatan motifnya.

Riya' khafy yang lebih samar dari hal di atas adalah merasa senang kerana orang lain melihat amalanya.Termasuk riya' yang lebih samar lagi adalah seseorang tidak senang kerana orang lain melihat ibadahnya,namun ia senang orang-orang menghormatinya kerana ketaatanya,seolah-olah ia memperolehi pahala dari orang-orang.Kedua macam riya' ini dapat mengurangi pahala amal dan tidak menghapus pahalanya.

kesimpulanya,selagi orang yang beramal membezakan antara persaksian manusia dan binatang saat beramal dan keberadaan ibadah tersebut tidak seperti ketiadaanya dalam hal yang berkaitan dengan makhluk maka semua itu belum boleh dikatakan murni ikhlasnya kerana didalamnya terdapat campuran riya'.Intisari Minhajul Qosidin Ibnu Qudamah m/s19-20

Katanya lagi.."Tidak ada yang selamat dari riya' khafy selain orang yang tajam mata hatinya dan beruntung dengan perlindungan Allah dan pertolongan-Nya...."

Lagi katanya,"Orang-orang Ikhlas senantiasa takut pada riya' khafy.Mereka bersungguh-sungguh dalam menyembunyikan amal soleh mereka melebihi kesungguhan orang-orang dalam menyembunyikan amal buruk mereka.Mereka berharap agar amal mereka ikhlas kerana Allah sehingga kelak hari kiamat Allah membalas keikhlasan mereka..."

Begitulah serba sedikit mengenai riya, lawan daripada ikhlas...dan yang ingin aku kaitkan disini adalah berkenaan kita para isteri, apabila melakukan amal, kemudian memikirkan amal orang lain yang sedikit..adakah ini berupa kesombongan atau riya'nya kita??, kerana merasakan lebih dari orang lain, lebih dari si suami!,lebih dari mertua,ipar,adik-beradik dan kawan-kawan barangkali.Ketahuilah sang isteri..Allah memberikan tempat yang mulia bagi kaum wanita untuk menetap di rumah, menguruskan hal suami dan anak-anak,menjaga keperluan dan tsabat(kekal) menasihati dan mendorong suami yang penat lelahnya memikul tanggungjawabnya untuk menyara anak bininya.Maka, disinilah tugas kita para isteri,inilah jihad utama kita,taat dan patuh kepada suami dan menasihati,mendorongi mereka tatkala lemah(dengar>http://vimeo.com/20320706).Semoga Allah memberikan balasan atas setiap sesuatu yang ikhlas kita kerjakan untuk mendapatkan keredaan suami, dalam rangka meraih keredaan Allah azza wajalla.

Akhir kata mari kita lihat sambungan kata-kata imam ibnu qudamah, memperkatakan terapi atau ubat bagi penyakit riya' ini..

"Di antara terapi yang dapat mewujudkan ikhlas dan selamat dari riya' dan penyakit hati lainya adalah dengan membaca zikir,membaca tasbih,tahlil,zikir dan doa,serta adab-adab syariat yang lainya"

Bagaimana pula hendak berzikir?...ia bukanlah dengan mengikut sesuka hati, bagai mebaca jampi serapah yang xdifahami dan tidak diketahui asal usulnya,bahkan, carilah zikir serta doa-doa yang benar datangnya dari nabi,seperti nasihat Imam Ibnu Qudamah sendiri dalam sambungan kata-katanya tadi,menasihati kita agar memiliki buku Al-Adzkar karya Imam Nawawi rahimahullah.Seperti kata orang salaf terdahulu,"Juallah rumah dan belilah Al-Adzkar" ,menunjukkan betapa kepentinganya.Ia merupakan perhiasan bagi orang-orang yang baik, dan simbol orang-orang pilihan.Baca dan pelajarilah kitab tersebut kata Ibnu Qudamah.

Aku kira satu penjelasan dan nasihat yang lengkap dari Imam Ibnu Qudamah mengenai niat dan ikhlas,alhamdulillah dipertemukan buku ini,terima kasih juga kepada suami kerana selalu saja membelikan buku yang menyentuh hati dan jiwa..pasti Allah memberikanmu ganjaran yang setimpal suamiku..seperti sabda Nabi:"Siapa melakukan satu kebaikan,dan kebaikan itu diikuti orang lain,maka ia dapat ganjaran terhadap apa yang dia lakukan dan ganjaran terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain tanpa ada sebarang kekurangan.Manakala sesiapa yang melakukan keburukan dan keburukan itu diikuti oleh orang lain maka ia mendapat ganjaran terhadap apa yang dia buat dan ganjaran terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain tanpa sebarang kekurangan"Hadis Riwayat at-Tirmizi

Semoga coretanku dipagi hari ini memberikan aku,orang yang pertama-tama sepatutnya mendapat petunjuk dari bicara ini kemudian mengharap pada yang lain juga .semoga Allah memperbaiki keadaan kita, para isteri dan sabar dalam mentaati Allah dan RasulNya..wallahu ta'ala a'lam minna...Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...


Friday, 8 July 2011

teerbang...

Bagai burung terbang pulang ke sangkarnya..begitulah para suami keluar bekerja pagi balik di petang hari dengan penat lelahnya mencari sesuap rezeki...terfikir aku sebagai isteri adakah telah menjalankan tanggungjawabku..semoga blog ini dapat mengisi masaku dan menjadi diari yang bermanfaat untuk orang lain juga..salam perkenalan kepada warga blog lain dan kawan-kawan alam maya..semoga ukhuwwah yang terjalin hanya kerana yang Esa..
 

Buat permulaan ini eloklah kiranya aku mengenalkan diri serba ringkas,kawan-kawan bole panggil namaku nurul,seorang suri rumah dan masih dalam status pelajar di university azhar iskandariah.Buat masa ini aku bersama suamiku di shah alam dan akan menyambung kembali pembelajaran tahun hadapan insyaallah dalam rangka menghabiskan pengajian yang tinggal satu penggal saja lagi,semoga Allah mudahkan urusanku dan memurahkan rezki aku dan suami.

Mengapa aku suka perkataan terbang??.Sebenarnya secara spontan nama terbang ini aku fikirkan...mungkin kerana aku wanita yang mempunyai sensetiviti dan emosi yang kuat maka aku memilih terbang...terbang melayang mengigati zaman kecilku..terbang memikirkan umurku yang semakin lanjut...terbang memikirkan perkahwinanku..bagaimana ia bermula dan kenangan-kenangan yang mengusik jiwa..terbang mencari memikirkan diri..muhasabah diri mencari kebenaran,bersama orang yang benar,mengamalkan perkara yang benar dan menyampaikan perkara yang benar pula insyaallah...

Semoga hidup kita ini semakin hari semakin matang ,sabar,bijak,dan mengikuti jalan yang benar dalam mengatur dan menjaga diri.Bersama kita memperbaiki diri menambah ilmu dan belajar dari kesilapan dan memperbaikinya...Bagaimana kita hendak menjadi orang yang benar dan sentiasa dilandasan yang benar?? sudah tentu dengan ILMU...tanpa ilmu kita tidak akan dapat terbang balik ke pangkal jalan...terbang kembali ke landasan yang benar...kerana ilmu itu penyuluh hidup..dan Allah juga mengurniakan kita akal dan boleh membezakan baik dan buruk..yang terbaik antara yang baik dan seterusnya...                                                                                    

Seperti Firman Allah subhana wataala:

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (39:17-18)

Ciri-ciri orang yang mempunyai akal adalah mereka yang mahu mendengarkan perkataan-perkataan dan mengikuti apa yang terbaik antaranya...Dalam perkara kehidupan seharian marilah kita menilai dan membangun bersama Al-quran dan sunnah..cukupkah? tidak ckup lagi...kenapa? kerana boleh saja siapa2 mengklaim dirinya mengikuti al-quran dan sunnah untuk memuaskan nafsu,seperti ajaran-ajaran sesat Al-Arqam,ayah pin,Al-mansur yang mudah lagi hendak dicam..Adapun selain dari itu jemaah jemaah yang mengaku mengikut al-quran dan sunnah boleh saja mereka ini terkeliru dan mengelirukan orang lain juga..kenapa pula? hanya kerna mereka memahami al-quran dan sunnah mengikut akal masing2 dan ini satu kesesatan yang nyata..lalu BAGAIMANA?? 


Jalan yang mudah dan selamat adalah dengan mengikuti penerangan para salafus soleh,kerana mereka inilah yang lebih dulu mengenal islam, lebih dekat, dan al-quran dan sunnah pula diturunkan pada masa mereka ini masih bersama Rasulullah s.a.w dan disampaikan kepada tabien tabi' tabien dan seterusnya sehingga ke hari ni..seperti firman Allah subahana wataala: "golongan terdahulu yang terawal (memeluk islam) dari kalangan Muhajirin dan Ansar serta orang yang mengikuti mereka dengan baik,Allah redha kepada mereka dan mereka redha kepada Allah,dan Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir di dalamnya,mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.itulah kemenangan yang besar"At-Taubah ayat 100

kata Nabi:  "sebaik-baik umatku ialah kurunku,kemudian kurun selepas mereka,kemudian kurun selepas mereka..." Riwayat Bukhari


Oleh itu cara ini saya katakan mudah,apakan tidak,tidak perlu menggunakan akal fikiran menafsir sesuka hati yang mudah pulak dibolak balikkan..dan inilah yang dikatakan benar..mengikut landasan al-quran dan as-sunnah dengan memahami hujjah atau huraian,penafsiran,dan sejarah para salafus-soleh...wallahu a'lam..

Semoga dilain kesempatan kita dapat bersama-sama lagi berkongsi ilmu dan pengalaman insyaallah..


 

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More